Senin, 09 Mei 2016

Tugas 3 Bahasa Indonesia 2 Softskill "Laporan Ilmiah"

LAPORAN ILMIAH



Disusun oleh :
                            Nama            : Sazkya Ayushifara
                            NPM             : 18213329
                            Fakultas        : Ekonomi
                            Jurusan         : Manajemen
                            Kelas            : 3EA21
                            Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2



UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2016




A.          Laporan Ilmiah
Laporan ialah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah.
Laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.

B.          Unsur-unsur Kerangka Laporan
Kerangka Laporan Ilmiah umumnya terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
1)   Halaman Judul
Biasanya terdiri dari 3 atau 4 bagian yang disusun dari atas bawah sebagai berikut:
2)   Judul laporan terdiri dari subjek 
Laporan selalu didahului dengan ‘Laporan Tentang’,’Laporan Kemajuan tentang’,’Laporann Tahunan tentang’, ‘Penelitian tentang’ dan sebagainya. Judul laporan berbeda dari judul buku
3)   Nama dan identitas penerima laporan 
Unsur ini tidak selalu ditulis. Jika ditulis, maka sebelumnya didahului dengan kata-kata ‘Diserahkan kepada’. Jika penerima laporan memiliki kedudukan resmi, tulislah kedudukan itu.
4)   Nama dan identitas penulis
Sebelum nama penulis biasanya didahului dengan perkataan ‘Oleh’ dan diikuti oleh gelar.
5)   Tempat dan tanggal
Dibagian bawah halaman ditulis tempat dan tanggal dalam 2 baris terpisah. 

C.          Manfaat Penyusunan Laporan
Peneliti haruslah menyusun laporan hasil penelitian dengan sebaik-baiknya. Laporan penelitian akan bermanfaat khususnya bagi pihak-pihak sebagai berikut :  
1)   PENELITI
Manfaat penyusunan laporan penelitian bagi peneliti adalah :
-        Merupakan bukti bahwa peneliti telah menemukan sesuatu.
-  Untuk menunjukkan hasil temuannya agar dikenal oleh banyak pihak (ilmuwan, pemerintah serta masyarakat).
-        Membuat hasil penelitian menjadi lebih bermakna.
2)   PARA ILMUWAN
Dengan penemuan melalui penelitian, khasanah ilmu pengetahuan akan bertambah luas. Penambahan ilmu berarti bertambah pula tempat berpijak bagi mereka dalam mengembangkan pengetahuan lebih lanjut.
3)   PEMERINTAH, BIROKRAT DAN PENGAMBIL KEBIJAKAN
Informasi yang diperoleh dari penelitian akan bermanfaat bagi penentuan kebijakan sehingga daya dukung kebijakan tersebut cukup kuat karena berupa data actual.
4)   MASYARAKAT LUAS
Dengan adanya informasi dari penelitian ilmiah, kehidupan manusia menjadi lebih sempurna dan semakin mudah. Contoh : penemuan listrik, telepon dan televisi.
Laporan kegiatan merupakan alat yang penting untuk :
a.      Dasar penentuan kebijakan dan pengarahan pimpinan
b.     Bahan penyusunan rencana kegiatan berikutnya.
c.      Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.
d.  Data sejarah perkembangan satuan yang bersangkutan dan lain-lain

D.          Praktik Menyusun Laporan Ilmiah
Ilmiah Laporan ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi hal-hal yang terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap. Secara umum, sistematika suatu laporan yang lengkap terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.  
1.   Bagian Pembuka
Bagian pembuka umumnya digunakan apabila laporan merupakan tulisan yang berdiri sendiri secara utuh. Untuk laporan penelitian dalam jurnal atau bagian dari sebuah buku, tidak seluruh unsur dalam bagian pembuka tersebut digunakan. Bagian pembuka ini terdiri atas :
a)   Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi asal, kota penyusunan, dan tahun
b)   Halaman pengesahan (jika perlu)
c)   Halaman motto/semboyan (jika perlu)
d)   Halaman persembahan (jika perlu)
e)   Prakata;
f)    Daftar isi;
g)   Daftar tabel (jika ada)
h)   Daftar grafik (jika ada)
i)    Daftar gambar (jika ada)
j)    Abstak : uraian singkat tentang isi laporan
2.   Bagian Isi
Bagian isi merupakan menyajikan atau mengomunikasikan informasi ilmiah yang ingin disampaikan. Pada bagian isi inilah seluruh komponen pendahuluan, kajian pustaka dan kerangka teori, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta simpulan dan saran disajikan secara lengkap. Bagian isi terdiri dari :
a.   Bab I Pendahuluan
Pendahuluan merupakan tulisan yang disusun untuk memberikan orientasi kepada pembaca mengenai isi laporan penelitian yang akan dipaparkan, sekaligus perspektif yang diperlukan oleh pembaca untuk dapat memahami informasi yang akan disampaikan Pendahuluan terdiri atas :
(1) Latar belakang
(2) Identitas masalah
(3) Pembatasan masalah
(4) Rumusan masalah
(5) Tujuan dan manfaat
b.   Bab II Kajian Pustaka
Kajian pustaka mengungkapkan teori-teori serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan pada topik yang sama atau serupa. Berdasarkan analisis terhadap pustaka tersebut, peneliti dapat membatasi masalah dan ruang lingkup penelitian, serta menemukan variabel penelitian yang penting dan hubungan antarvariabel tersebut.
c.    Bab III Metode Penelitian
Pada bagian ini biasanya dijelaskan secara rinci mengenai desain penelitian, populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan dan analisis data, serta kelemahan penelitian.
d.   Bab IV Pembahasan
Pembahasan pada dasarnya merupakan inti dari sebuah tulisan ilmiah. Pada bagian ini penulis menyajikan secara cermat hasil analisis data serta pembahasannya berdasarkan kajian pustaka dan kerangka teori yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
e.   Bab V Penutup
Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran dari laporan ilmiah tersebut. Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis dari penelitian yang dilakukan. Kesimpulan diperoleh dari uraian analisis, interpretasi dan deskripsi yang telah dituliskan pada bagian analisis dan pembahasan. Untuk menulis simpulan, penulis perlu mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang hasil apa yang paling penting dari penelitian yang dilakukan. Jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang dituliskan pada bagian simpulan. Pada bagian akhir, biasanya simpulan disertai dengan saran mengenai penelitian lanjut yang dapat dilakukan
3.   Bagian Penutup
a)     Daftar Pustaka
b)     Daftar Lampiran
c)     Indeks daftar istilah

E.          Penyajian Lisan
Penyajian Lisan adalah Penyampaian secara  lisan atau kemampuan berbicara serta kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Pendengaran  menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, ditambah lagi dengan gerak tangan dan air muka (mimik) pembicara.
Tujuan utama penyajian lisan adalah untuk berkomunikasi tentu tidak terlepas dari kemampuan seseorang dalam menyampaikn dengan lisan. Dalam hal ini sangat di perlukan adanya kemampuan dan penguasaan dalam tekhnik-tekhnik penyajian lisan.


Sumber


Jumat, 08 April 2016

Tugas 2 Bahasa Indonesia 2 Softskill "Aspek Penalaran Dalam Karangan Ilmiah"


ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH


Disusun oleh :
                            Nama            : Sazkya Ayushifara
                            NPM             : 18213329
                            Fakultas        : Ekonomi
                            Jurusan         : Manajemen
                            Kelas            : 3EA21
                            Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2



UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2016




A.          Menulis Sebagai Proses Penalaran
Menulis merupakan proses bernalar. Jadi, menulis mengenai suatu topik atau tema kita pasti harus berpikir menggunakan indera (pengamatan), dengan menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berpikir vang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.

B.          Penalaran Induktif dan Deduktif Dalam Karya Ilmiah
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Ada 3 macam penalaran Induktif :
1.   Generalisasi
Generalisasi merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada. Generalisai Dibagi menjadi 2 :
a.    Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif : Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh Generalisasi Sempurna / tanpa loncatan induktif :
-     Sensus Penduduk.
-     Jika dipanaskan, besi memuai.
-     Jika dipanaskan, baja memuai.
-     Jika dipanaskan, tembaga memuai.
-     Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.
b.   Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif : Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Contoh Generalisasi Tidak Sempurna / dengan loncatan induktif :
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.
2.   Analogi
Analogi adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial yang bersamaan.
Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.
3.   Hubungan kausal
Hubungan kausal (kausalitas) merupakan prinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Macam-macam hubungan kausal :
a.    Sebab - akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.
b.   Akibat – Sebab
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
c.    Akibat – Akibat.
Contoh: Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.
Penalaran Deduktif dalam Karya Ilmiah merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Pada penalaran deduktif menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Salah satu macam penalaran induktif, yaitu adalah silogisme :
1)   Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Jenis-jenis Silogisme :
a)   Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat) dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh Silogisme Kategorial :
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor/ Premis Umum)
Akasia adalah tumbuhan (Premis Minor / Premis Khusus).
Akasia membutuhkan air (Konklusi / Kesimpulan)
b)   Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik
Contoh Silogisme Hipotetik :
Jika hujan saya naik becak.(mayor)
Sekarang hujan.(minor)
Saya naik becak (konklusi / kesimpulan)
c)   Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh Silogisme Alternatif :
Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Nenek Sumi berada di Bandung.
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

C.          Isi Karangan
Pada bagian isi suatu karangan, penulis menyusun gagasan-gagasan karangan menjadi beberapa bagian atau bab dengan memperhatikan ketersambungan antar paragraf dan gaya bahasa yang baik untuk dibaca oleh pembaca. Jika gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa yang baik dan benar, maka isi dari suatu karangan dapat tersampaikan  maksud dan tujuannya kepada para pembaca.
Sehingga tidak terjadi salah penalaran dalam penyampaian maksud dan tujuan dari isi karangan. Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan.
Bagian-bagian isi diantaranya adalah : Judul bab atau topic isi bahasan, Uraian singkat isi pokok bahasan, Penjelasan tujuan bab, Uraian isi pelajaran, Penjelasan teori, Sajian contoh, Ringkasan isi bab, Soal latihan, Kunci jawaban soal latihan.

D.          Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Karangan
Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.
Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian. Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

Kesimpulannya : fakta sebagai unsur dasar dalam penalaran karangan karena dalam membuat suatu karangan baik itu karangan ilmiah atau karangan non ilmiah harus didasari oleh fakta, dan penulis harus mengerti serta memahami fakta tersebut, sehingga dapat di kembangkan dan disusun menjadi sebuah karangan.




Link :

Rabu, 16 Maret 2016

Tugas 1 Bahasa Indonesia 2 Softskill "Berpikir Induktif"

BERPIKIR INDUKTIF 



Disusun oleh :
                        Nama           : Sazkya Ayushifara
                        NPM            : 18213329
                        Fakultas       : Ekonomi
                        Jurusan        : Manajemen
                        Kelas           : 3EA21



UNIVERSITAS GUNADARMA

2016




A.         Konsep Berpikir Induktif
Induktif merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005).
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.


            B.            Konsep Bernalar dalam Karangan
Dalam praktek proses deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan--satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikernbangkan dalarn paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf deduktif de-ngan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif dengan kalimat utama. Pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya.
Berdasarkan hal di atas ialah arah atau alur penalaran dan bagaimana per-wujudannya di dalam tulisan atau karangan. Pada bagian berikut akan dibahas wujud penalaran dihubungkan dengan urutan pengembangan dan isi karangan. Dalam hal ini, karena paragraf pada hakikatnya merupakan suatu karangan mini maka contoh-contoh yang diberikan sebagian besar berupa paragraf.


           C.                 Konsep Generalisasi
Generalisasi adalah pernyataan tentang hubungan diantara konsep. Generalisasi mengungkapkan sejumlah besar informasi. Kebenaran suatu generalisasi ditentukan oleh rujukan pembuktian konsep.
Contoh 1 :
Angka kecelakaan di indonesia tahun 2014 bisa dikatakan sangat tinggi. Tercatat bahwa telah terjadi kecelakaan sebanyak 2356 selama tahun 2014. Angka ini melibihi jumlah kecelakaan yang terjadi sebelumnya yaitu sebanyak 2150 kasus. Bahkan pada tahun 2012 angka kecelakaan di indonesia berada di angka 1978 kasus, peningkatan angka kecelakaan di indonesia terjadi karena buruknya infrastruktur di berbagai daerah. jadi dapat kita simpulkan bahwa angka kecelakan di indonesia semakin meningkat tiap tahunnya.
Contoh 2 : 
§  Luna Maya adalah bintang film dan iklan, dan ia berparas cantik.
§  Revalina. S. Temat adalah bintang film dan iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua bintangf ilm dan iklan berparas cantik. Pernyataan “semua bintang film dan iklan berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Bella juga bintang film, tetapi tidak berparas cantic.
Macam – Macam Generalisasi
a.      Generalisasi Sempurna
Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus pendudukindonesia
b.     Generalisasi Tidak Sempurna
Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh wanita dewasa di Indonesia senang memakai  rok mini. Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna.
Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
Jumlah datal yang diteliti terwakili. data harus bervariasi. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari kejadian umum/ tidak umum.


           D.         Hipotesis dan Teori
Hipotesis berasal dari kata “hypo” yang berarti “sebelum” dan “thesis” yang berarti “pernyataan/pendapat”. Hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara yang kebenarannya masih harus di uji, atau rangkuman teoritis yang diperoleh dari tinjauan pustaka. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Pengertian teori adalah merupakan seperangkat preposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis atau dengan lainnya dengan data dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati. 


                      E.                  Analogi
Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh 1:
Nina adalah lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
            Contoh  2:
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut :
§  Analogi dilakukan untuk meramalkan sesuatu
§  Analogi diakukan untuk menyingkapkan kekeliruan
§  Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.


          F.          Hubungan Kasual
Hubungan sebab akibat / hubungan kausal ialah hubungan keterkaitan atau ketergantungan dari dua realitas, konsep, gagaasan, ide, atau permsalahan. Suatu kegiatan tidak dapat mengalami suatu akibat tanpa disertai sebab, atau sebaliknya suatu kegiatan tidak dapat menunjukkan suatu sebab bila belum mengalami akibat.
Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah, ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan kausalitas dari kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis tersebut.



Sumber :